Mengenai Saya

Foto Saya
Lumajang, Jawa Timur, Indonesia

Jumat, 12 Desember 2008

Rakor Kesehatan Lansia Jawa Timur

Baru saja saya mengikuti pertemuan koordinasi program kesehatan usia lanjut / usila / lansia Propinsi Jawa Timur di Hotel Utami Surabaya. Acara yang diselenggarakan pada 10-11 Desember 2008 tersebut sebenarnya untuk para kasi ARU kabupaten dan kota di Jawa Timur. Saya sendiri diundang dalam kapasitas sebagai Kepala Puskesmas Senduro Kab. Lumajang, puskesmas santun lansia, untuk menjadi nara sumber dan sekaligus peserta aktif.

Hadir dalam acara tersebut para pejabat dari Dinas Pemuda dan Olahraga, Dinas Sosial dan Biro Kesra Pemprop Jatim serta dari Yayasan Gerontologi Propinsi Jawa Timur Soerjadi Tjokrosoewito sebagai nara sumber. Pertemuan yang dibuka oleh Kasubdin Kesga dan Gizi dr Hendra Wijaya tersebut membicarakan beberapa hal seputar program untuk lansia terutama berkaitan dengan pengembangan puskesmas santun lansia. Ada beberapa hal yang saya tangkap dari pertemuan koordinasi tersebut, antara lain:
1. Program kesehatan lansia "belum dianggap penting" oleh sebagian pengambil keputusan bidang kesehatan di daerah
2. Dukungan sektor non kesehatan masih belum maksimal
3. Implementasi Perda no 5 tahun 2007 Propinsi jawa Timur tentang Kesejahteraan Lansia juga belum maksiamal.

Seperti telah disinggung di muka, saya hadir untuk menyampaikan presentasi mengenai pelaksanaan program santun lansia di Puskesmas Senduro Kabupaten Lumajang. Saya bersama dokter Puskesmas Bareng Kabupaten Jombang kebagian presentasi pada hari pertama jam 16.25, waktu yang sangat krusial untuk suatu presentasi. Itu adalah waktu dimana peserta biasanya sudah jenuh dan maunya segera selesai, ishoma, mandi dan sholat maghrib lalu ngobrol dengan teman dari berbagai daerah. Begitulah kira-kira. Kami berdua merasa kurang optimal karena waktu yang menurut jadwal seharusnya 2 jam dipersingkat jadi 50 menit saja. Kalimat demi kalimat saya persingkat, dan tidak semua slide saya paparkan. Moderator tampaknya juga sudah tidak sempat lagi membuka sesi tanya jawab. Namun begitu mudah-mudahan misi yang kami bawa cukup membawa hasil.

Paparan Puskesmas Bareng lebih menekankan pada pelayanan lansia di dalam gedung, sedangkan saya lebih pada pelayanan luar gedung dan pemberdayaan masyarakatnya. Itu adalah semacam pembagian tugas yang kebetulan amat pas. Tetapi di puskesmas kami melaksanakan keduanya, baik pelayanan dalam gedung maupun luar gedung dan pemberdayaannya.

Program santun lansia, sebagaimana program kesehatan komunitas lainnya memang harus dilaksanakan melalui dua dimensi, yaitu:
1. Pelayanan kesehatan
2. Pemberdayaan masyarakat

Pelayanan kesehatan dalam gedung ditekankan pada kemudahan prosedur layanan, pelayanan berkualitas oleh petugas yang kompeten, responsif terhadap kebutuhan dan kondisi lansia serta santun dan mendahulukannya dari pasien umum. Untuk itu maka puskesmas santun lansia biasanya menyediakan loket tersendiri bagi lansia dan bahkan ruang layanan tersendiri bila memungkinkan. Di Puskesmas Senduro sendiri ada pelayanan yang disebut one stop service. Itu artinya pasien lansia dilayani dalam satu paket layanan dalam satu ruangan tanpa harus pindah ke ruang lain mulai dari pendaftaran, pemeriksaan hingga mendapat obat. Untuk pelayanan model ini, Puskesmas Bareng ternyata sudah lebih awal melaksanakannya dengan baik sekali.

Permasalahan yang dihadapi Puskesmas Senduro adalah sarana gedung yang ada dulunya tidak dirancang santun lansia. Meski demikian program tetap kami jalankan sesuai potensi yang ada dulu, dengan beberapa pembenahan. Mudah-mudahan untuk selanjutnya kami bisa memiliki gedung tersendiri sebagai Klinik Lansia Puskesmas Senduro di tempat yang dulunya adalah bekas gedung puskesmas lama yang sudah rusak.

Dimensi kedua adalah pemberdayaan masyarakat tidak kalah pentingnya. Karena permasalahan lansia sangat komplek dan saling berkaitan. Permasalahan sudah jelas, seperti penurunan kualitas dan kebugaran fisik dan psikis. Berbagai penyakit degeneratif mulai menghantui mereka dan ini membutuhkan perhatian dan dana yang tidak sedikit. Secara sosial sebagian lansia sudah tidak mampu mandiri sebagai mana masih muda dulu. Kondisi ini diperparah oleh stigma negatif tentang lansia oleh sebagian masyarakat. Karenya perlu suatu gerakan pemberdayaan tidak hanya bagi para lansia itu sendiri, tetapi juga bagi keluarga dan masyarakat pada umumnya.

Lho, apa hubungannya segala tetek bengek tersebut dengan tugas kita sebagai orang kesehatan? Tentu saja ada dan malah sangat strategis. Lansia seperti halnya manusia lainnya juga perlu dipandang secara holistik, tidak saja dari segi fisik bilogis, tetapi juga jiwa, sosial dan bahkan spiritual. Itu semua sangat berkaitan bukan. Tetapi saya tidak hendak mengatakan itu semua menjadi tugas orang kesehatan. Kita hanya perlu untuk mengadvokasikan kepentingan lansia kepada sektor lainnya untuk bersama-sama memperhatikan mereka. Mungkin Anda berpikir bukankah dinas lintas sektor sudah punya tupoksi masing-masing. Memang benar, tetapi pada umumnya tetap saja harus ada pihak yang memulai maju ke depan baru lainnya mengikuti dari belakang. Ya, tidak? Lagi pula bukankah orang kesehatan yang paling sering mendapat keluhan dan bersinggungan dengan permasalahan para lansia. Jadi sudah seharusnya orang kesehatan lebih peka terhadap mereka.

Untuk mengoptimalkan dukungan litas sektor, partisipasi para lansia dan masyarakat pada umumnya maka perlu wadah, dan wadahnya adalah Karang Werda. Sebagai mana disebutkan dalam Perda No 5 tahun 2007, Karang Werda adalah wadah bagi komunitas lansia di tingkat desa. Kegiatan lansia meliputi berbagai bidang, antara lain: organisasi, kesehatan, olaraga, kerohanian, kesejahteraan, dan kesenian. Jadi jelas berbagai sektor bisa bertemu di Karang Werda dlam rangka pembinaan dan pengembangan. Karena itulah maka Puskesmas Senduro bersama Muspika, Sektor Pendidikan, KUA, PKK dan tokoh masyarakat telah melaksanakan fasilitasi pembentukan Karang Werda. kalau dulu hanya ada 2 Karang Werda yang aktif, maka sekarang sudah semua desa atau sebanya 12 Karang Werda dengan SK Kepala Desa masing-masing.

Lalu bagaimana kelembagaan di tingkat kecamatan? Sebelum melangkah pada fasilitasi, kami telah terlebih dahulu membentuk tim pembina karang werda dengan SK Camat. Tim ini diketuai oleh Camat dan terdiri dari berbagai sektor terkait. Sementara itu untuk komunitas lansia itu sendiri para wakil karang werda desa kemudian membetuk suatu forum yang disebut Forum Karang Werda Kecamatan Senduro yang saat ini diketuai Ibu Kunsiati. Tim pembina dan forum inilah yang bertanggung jawab memfasilitasi dan membina karang werda desa.

Lebih jauh Anda saya ajak kebelakang. Sebelum semua tersebut, sebenarnya Puskesmas Senduro sudah melaksanakan santun lansia sejak awal 2007 ketika itu saya masih sebagai Kepala Puskesmas Gucialit. Karang Werda sudah terbentuk di 3 desa tetapi sampai saya masuk Senduro Januari 2008 yang aktif tinggal satu saja, yaitu Desa Senduro. Meskipun begitu oprasional Karang Werda Desa Senduro sangat aktif bahkan sangat bersemangat. Organisasinya jalan, administrasi rapi, dan kegiatannya sangat semarak. Sampai-sampai kami yang muda-muda merasa kalah giat dengan mereka. Pertemuan pengurus dan arisan rutin diadakan tiap tanggal 15. Senam lansia aktif, senam diabetes untuk lansia OK, bahkan bisa juara III kabupaten. Kesenian juga ada, yaitu karawitan, keroncong dan paduan suara lansia. Bidang ekonomi ada tabungan lansia, simpan pinjam lansia, usaha keripik pisang sampai usaha membuat dan menjual souvenir. Kegiatan lainnya antara lain:
- Pasamuan dan pengajian rutin
- Talk show kesehatan
- Jalan sehat
- Latihan keterampilan
- Produksi jamu
- Usaha pupuk bokasih
- Bazaar lansia
- Bakti sosial bencana alam
- Pengobatan massal
- Rekreasi
- Peringatan Hari Lansia Nasional rutin tiap tahun
Di samping itu ada posyandu lansia yang waktu itu sudah aktif. Pantaslah kalau Karang Werda Desa Senduro berhasil Juara II Lomba Karang Werda tingkat propinsi pada tahun 2007 lalu.

Tapi bila kembali ke puskesmas ternyata pelayanan lansia tidak ubahnya dengan puskesmas pada umumnya. Padahal di halaman puskesmas terpampang name board "puskesmas santun lansia" Maka dari itu saya bawa permasalahan ini ke loka karya mini. Saya tawarkan kepada seluruh staf apakah name board-nya diturunkan atau tetap seperti itu asalkan pelayanannya ditata ulang untuk memberi layanan santun lasia secara maksimal. Ternyata yang dipilih adalah tawaran kedua dan selanjutnya membuat rencana tindak lanjutnya.

Sekali lagi saya tegaskan, bahwa program kesehatan komunitas selalu berkaitan dengan pemberdayaan. Dan saya tidak mau orang kesehatan kerja sendirian, jadi program yang telah digagas puskesmas harus menjadi program bersama segenap dinas lintas sektor. Pendek kata santun lansia harus menjadi program kecamatan, bukan program puskesmas semata. Maka mulailah kami membentuk dan menjalankan jejaring advokasi dan jejaring bina suasana untuk program "Kecamatan Santun Lansia" Dalam program ini ada community organization dan community development melalui karang werda. Sektor non kesehatan membina lansia melalui karang werda sesuai dengan bidanyanya masing-masing. PLKB misalnya, mereka membina keluarga lansia melalui lembaga BKL (bina keluaraga lansia)di tiap dusun sehingga tercipta situasi kondusif pengembangan lansia di masyarakat. Petugas kesehatan tentunya bisa menggunakan karang werda sebagai media pembinaan bidang kesehatan. Dan karang werda ini juga bisa mendorong kesinambungan penyelenggaraan posyandu lansia, yang ditargetkan terbentuk di setiap dusun satu posyandu atau berjumlah 52 posyandu lansia pada semester I tahun 2009.

Ada satu hal lagi yang harus diperhatikan dalam upaya pemberdayaan lansia. Jangan memandang lansia hanya dari sudut masalah saja tapi pandanglah juga bahwa pada mereka ada potensi. Ini akan berpengaruh pada pola pendekatan kita kepada mereka. Kita cukup memfasilitasi saja dan dengan bantuan seperlunya saja. Sekali lagi mereka juga masih punya kapabilitas yang mesti diberi kesempatan. Ingat 87 dari 150 orang terkaya di Indonesia adalah lansia. Ada pengalaman menarik sewaktu saya memfasilitasi Karang Werda Desa Argosari, sebuah desa yang tergolong agak miskin. Ada seorang lansia yang sangat sepuh malah bingung membelanjakan uangnya, "Saya banyak uang sampai bingung untuk beli apa", katanya. Orang ini hanya perlu difasilitasi saja agar potensinya bisa lebih bermanfaat untuk dirinya dan juga untuk masyarakat di sekitarnya.

Kembali ke pertemuan koordinasi di hotel Utami Surabaya, telah disepakati beberapa hal untuk pengembangan program santun lansia selajutnya. Mudah-mudahan program ini lebih mendapat perhatian dari pihak-pihak terkait karena bagaimanapun juga jumlah komunitas lansia akan terus bertambah sejalan nertambahnya umur harapan hidup. Dan jangan lupa, membangun sistem pelayanan dan pemberdayaan lansia berarti membangun masa depan kita sendiri. Bukankah kita semua berharap jadi lansia? Kecuali kalau Anda ingin mati muda. Sorry, ini guyon.... he-he-he.

Related post:
1. Sekilas Puskesmas Santun Lansia
2. Safari Santun Lansia ke Desa Ranupani
3. Lomba Senam Diabetes untuk Lansia

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Klik di bawah ini untuk melihat daftar semua tulisan saya