/* Show Table of Contents ----------------------------------------- */ #toc { border: 0px solid #78B749; background: #ffffff; padding: 5px; width:500px; margin-top:10px; } .toc-header-col1, .toc-header-col2, .toc-header-col3 { background: #cccccc; color: #444; padding-left: 5px; font-weight:bold; width:250px; } .toc-header-col2 { width:75px; } .toc-header-col3 { width:125px; } .toc-header-col1 a:link, .toc-header-col1 a:visited, .toc-header-col2 a:link, .toc-header-col2 a:visited, .toc-header-col3 a:link, .toc-header-col3 a:visited { font-size:95%; text-decoration:none; text-align: Left; border-bottom-width: 1px; border-bottom-style: solid; border-bottom-color: #cccccc; } .toc-header-col1 a:hover, .toc-header-col2 a:hover, .toc-header-col3 a:hover { font-size:95%; text-decoration:underline; text-align: left; border-bottom-width: 1px; border-bottom-style: solid; border-bottom-color: #cccccc; } .toc-entry-col1, .toc-entry-col2, .toc-entry-col3 { padding-left: 5px; text-align: left; font-size:95%; border-bottom-width: 1px; border-bottom-style: solid; border-bottom-color: #cccccc; }

Mengenai Saya

Foto Saya
Lumajang, Jawa Timur, Indonesia
Lihat profil lengkapku

Jumat, 09 Januari 2009

Humor Lansia 2: Seminar Sex

Pada sebuah seminar tentang sex seorang nara sumber mengajak curah pendapat peserta.

Nara sumber: Siapa saja yang mampu berhubungan intim tiap hari tanpa absen?

Peserta: (Banyak sekali yang berebut angkat tangan, melonjak-lonjak dan teriak saya-saya …., wajah-wajah mereka tampak bangga dan bersemangat, rata-rata mereka berusia muda di bawah tiga puluh tahunan)

Nara sumber: Siapa yang mampunya seminggu sekali?

Peserta: (Agak banyak juga yang angkat tangan tapi tidak seheboh yang pertama, umumnya mereka berumur pertengahan. Apalagi ketika ditanya yang mampunya sebulan satu atau dua kali, yang angkat tangan tidak semangat, tampak malu, minder dan berusia 60-an ke atas)

Nara sumber: Kali ini siapa yang hanya bisa hubungan intim setahun sekali?

Peserta: (Suasana sunyi senyap, tidak ada yang angkat tangan, para peserta hanya saling pandang sesama mereka, entah malu atau memang tidak ada. Setelah beberapa saat tiba-tiba seorang kakek 80-an tahun berdiri sambil tertawa terkekeh-kekeh) Sayalah yang setahun sekali pak! (katanya)

Nara sumber: Kek! Yang sebulan sekali saja minder tapi kakek yang mampu hanya setahun sekali kok bangga dan sangat senang sekali. Tidak malu apa?

Peserta (kakek tua): Saya senang karena baru ingat yang setahun sekali itu waktunya ternyata hari ini. (Si kakek kembali terkekeh-kekeh sambil ngeloyor pulang meninggalkan peserta lain yang masih pada bengong)

He-he-he nggak lucu.

Read more...

Humor Lansia 1: Mudah Lupa

Ini cerita di suatu panti wreda, empat orang kakek lanjut usia sedang ngobrol.
Kakek A : Sudah tua begini terasa benar ya kalau kita ini jadi mudah lupa. Saya tuh kalau sedang di tangga suka lupa apakah saya mau naik atau turun … ?
Kakek B : Iya, saya juga sudah mulai pikun nih ! Masak waktu duduk di tempat tidur saya nggak inget sama sekali, saya ini baru bangun atau mau tidur … ?
Kakek C : Saya lebih parah lagi ! Setiap kali berdiri di depan pintu saya selalu bingung, saya mau masuk atau mau keluar ya … ?
Kakek D : Ah … kalian ini, pikun gitu kok dipamerin sih ! Kayak aku dong, ingatanku masih sangat kuat sekuat kursi ini (sambil mengetuk kursi kayu yg didudukinya).

i ini (sambil mengetuk kursi kayu yg didudukinya).

Begitu mendengar suara ketukan tok tok tok, lalu kakek D langsung menyahut, “Ya, siapa di situ ? masuk aja deh !” …
by: Oemar Bakrie Read more...

Jangan Meminta, Datanglah untuk Membantu

Saya sering melihat orang kesehatan meminta tolong pihak lain agar mendukung program-programnya. Dan itu dilakukan dalam rangka advokasi. Tidak jarang seorang petugas sampai memohon sedemikian rupa untuk mendapat dukungan dari pihak yang dianggapnya sebagai tokoh kunci. Memang tidak ada larangan seorang petugas meminta bantuan pihak lain dan mungkin bisa sangat membantu keberhasilan.

Yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai kebiasaan kita meminta-minta malah berdampak tidak produktif karena beberapa hal:
1. Citra diri kita jadi inferior di mata sasaran advokasi
2. Kita yang butuh bukan mereka
3. Kita hanya merepotkan mereka saja

Kalau hal di atas terjadi maka bargaining position kita jadi lemah. Padahal esensi terpenting dalam proses advokasi adalah negosiasi. Dan keberhasilan negosiasi amat ditentukan oleh bargaining position tersebut.

Misalnya ketika saya advokasi kepada camat tentang pembinaan lansia maka yang saya usahakan adalah bagaimana sasaran advokasi tersebut bisa melihat atau mengetahui keuntungan-kentungannya bila mendukung kegiatan tersebut. Kasarnya dia dapat apa bila kegiatan ini berhasil. Keuntungan yang saya maksud sangat luas dan tidak selalu keuntungan financial. Jadi saya datang tidak untuk memohon pertolongan, melainkan menawarkan kerja sama saling menguntungkan.

Seperti seorang petugas penjualan, kita mesti bisa menunjukkan keunggulan product yang kita tawarkan. Tunjukkan dulu value yang akan dia terima sebelum kita menuntut suatu harga tertentu. Yang penting adalah bagaimana kita membuat tangieble lebih dulu. Dengan begitu sasaran advokasi tidak merasa sedang memberi kepada saya melainkan sedang membayar atas apa yang akan diterimanya bila program sudah berhasil kelak.

Karena itulah maka saya sering mengingatkan semua staf puskesmas agar dalam melaksanakan advokasi jangan pernah meminta-minta. Datanglah kepada mereka untuk membantu karena orang yang memberi itu lebih berwibawa dari pada yang meminta. Bukankah Nabi Muhammad pernah mengajarkan bahwa tangan di atas lebih utama dari pada tangan di bawah? Maksudnya adalah jelas bahwa orang beriman agar lebih suka memberi dari pada menerima pemberian. Kata membantu yang saya maksud tidak berarti selalu menyuapi mereka. Dalam konsep pemberdayaan sekali lagi saya tekankan perlunya kita percaya bahwa orang lain juga memiliki kapabilitas.

Ketika memberi kita mesti menempatkan diri pada posisi yang benar agar tidak terkesan sedang meminta. Saya pernah dapat cerita dari seorang kader kesehatan di satu kelurahan di Kecamatan Kota yang baru membagikan kloset gratis kepada warganya yang belum memiliki jamban keluarga. Ternyata sebagian tetap tidak action dengan alasan tidak ada material lainnya. Dan ketika juga diberi material yang mereka maksud secara gratis ternyata tetap saja tidak action. Dan kali ini alasannya adalah karena pihak peberi tidak sekalian mengerjakannya juga. Kalau memang mau saya BAB di jamban maka buatkan saya jamban dan saya terima jadi, kalau tidak maka biarlah saya tetap BAB di sungai, kata mereka. Ini adalah kisah nyata. Dan setelah saya telusuri ternyata pihak kader dan timnya telah gagal memposisikan dirinya. Sehingga sebagian orang beranggapan yang butuh keberhasilan jambanisasi adalah kader dan tim puskesmas, bukan masyarakat. Ngapain saya yang disuruh repot. Kira-kira begitulah gumam mereka.

Tahun lalu Puskesmas Senduro pernah merawat inap seorang balita gizi buruk. Sebenarnya orang tuan balita yang terkesan kurang terurus ini menolak dirujuk ke puskesmas dengan alasan tidak punya uang dan tidak sanggup menunggui selama perawatan karena harus bekerja cari makan. Karena desakan bidan desanya akhirnya bersedia dirawat inap di puskesmas. Meskipun tidak punya kartu jamkesmas balita ini dirawat secara gratis. Ternyata tiap hari orang tua balita ini mengancam pulang paksa dengan tuntutan macam-macam, misalnya minta jaminan akomodasi semua yang menunggui dan bahkan untuk pulang ganti bajupun minta antar jemput bidan desanya. Kalau tidak dipenuhi maka akan menolak dirawat. Ini kasusnya mirip dengan kasus bantuan jamban di atas. Sudah membantu tapi selalu pada posisi salah.

Terapi yang saya berikan pada masalah tersebut adalah:
1. Petugas puskesmas tidak usah menahannya kalau pulang paksa
2. Seorang petugas promkes saya tugaskan melakukan penjelasan seperlunya kepada orang tua pasien tentang persoalan gizi buruk
3. Bidan desa menyerahkan persoalan ini kepada kepala desa setempat.

Terapi tersebut dimaksudkan agar:
1. Mereka tahu yang butuh adalah mereka bukan puskesmas
2. Puskesmas hanya membantu
3. Membentuk jejaring dengan pihak lain (kepala desa dan perangkatnya) agar ikut mengambil peran
Dan ternyata hasilnya sangat memuaskan. Bukan saja mereka mau dirawat tapi juga bersedia melakukan beberapa perubahan perilaku sehat dan bahkan menjadi agen perubahan bagi masyarakat sekitarnya dan membantu beberapa program kesehatan lain di kampungnya.

Yang perlu diperhatikan ketika melakukan advokasi:
1. Membantu, bukan meminta
2. Buatlah sasaran advokasi memahami keuntungan yang akan diterimanya
3. Barulah kita formulasikan peran yang harus mereka lakukan.
Dan bagaimana menurut Anda?
Read more...

Rabu, 07 Januari 2009

Lomba Yel-yel + Cerdas Cermat Kader dan Reinforcement Pemberdayaan

Minggu tanggal 4 Januari 2008 telah diadakan lomba cerdas cermat dan yel-yel posyandu gerbangmas di balai desa Kandangan. Sebagaimana UKBM (upaya kesehatan berbasis masyarakat) lainnya, posyandu gerbangmas perlu mendapat pembinaan secara terus menerus guna menjaga keberlangsungan operasionalnya. Di samping itu semangat para kader dan bahkan pembinanya harus selalu dijaga agar tidak loyo dengan selalu memberi energi baru pada saat-saat yang tepat. Ibarat battery, harus dicharger bila setrum mulai melemah. Itulah yang saya maksudkan dengan reinforcement yang salah satunya adalah dengan lomba-lomba.

Seperti yang pernah saya tulis pada posting terdahulu, salah satu posyandu di Desa Kandangan ini berhasil juara II lomba posyandu gerbangmas tingkat kabupaten. Bagi saya yang penting bukan juaranya. Yang menggembirakan sebenarnya adalah keberhasilan desa ini mengembangkan UKBM dengan baik. Selain memiliki posyandu gerbangmas bagus, di desa ini juga ada posyandu lansia yang lumayan aktif dan didukung adanya organisasi bagi komunitas lansia yang disebut Karangwerda Desa Kandangan. Desa siaganya juga berjalan meskipun baru mencapai strata kembang atau belum paripurna. Pendek kata, kegiatan UKBM Desa kandangan di tahun 2008 mulai menunjukkan peningkatan yang berarti.

Dalam rangka pengembangan UKBM di desa setidaknya sudah ada tiga media pembinaan, yaitu: 1. Rembug posyandu gerbangmas tiga bulanan; 2. Musyawarah masyarakat desa siaga tiga bulanan dan 3. Pertemuan bulanan paguyuban kader posyandu. Nah, melalui tiga media tersebut tim Pembina bisa masuk melakukan pembinaan berkelanjutan. Dengan pembinaan yang teratur diharapkan keberlanjutan operasional posyandu dan UKBM lainnya lebih terpelihara.Meskipun ada mekanisme pembinaan yang teratur, tetap saja keberlanjutan kegiatan masih menjadi masalah di beberapa posyandu dan UKBM lainnya. Kadang ada saat-saat dimana para kader kurang aktif dan kegiatannya seadanya saja. Bahkan pembinanyapun mungkin juga tidak bersemangat sehingga posyandu hanya dikelola oleh bidan saja. Guna mengantisipasi situasi tersebut maka perlu adanya energizer agar semua pihak terkait kembali bersemangat. Dan lomba cerdas cermat serta yel-yel seperti yang diselenggarakan oleh PKK Desa Kandangan itu adalah salah satu alternatifnya.

Lomba yang diadakan dalam rangka hari jadi Desa Kandangan tersebut diikuti oleh tujuh tim dari tujuh posyandu yang ada. Lomba berlangsung semarak dan disaksikan Muspika dan wakil dari dinas kesehatan. Materi cerdas cermat adalah seputar lima program pokok posyandu, pelayanan lima meja posyandu, seluk beluk posyandu gerbangmas, hingga berbagai program kesehatan dan program intervensi gerbangmas.

Setelah acara ini, berbagai pihak terutama kader kesehatan menyadari masih kurangnya pengetahuan yang seharusnya dimiliki oleh setiap kader. Sehingga ada komitmen untuk menindaklanjuti dengan pembinaan yang lebih intensif. Yang cukup menggembirakan adalah betapa PKK dan kantor desa cukup peduli terhadap pengembangan posyandu. Hari jadi atau yang lebih dikenal dengan acara selamatan desa ternyata tidak hanya diisi ritual selamatan dan hura-hura. Dan tampaknya juga menjadi inspirasi bagi desa-desa lainnya untuk menyelenggarakan kegiatan serupa tingkat kecamatan di masa mendatang.
Read more...

Rabu, 31 Desember 2008

Selamat Tahun Baru

Saya dan keluarga mengucapkan SELAMAT TAHUN BARU 1430 HIJRIYAH DAN TAHUN BARU 2009 MASEHI. Semoga tahun ini dipenuhi dengan rahmat dan hidayah-Nya. Kita berharap menjadi tahun yang penuh cinta kasih. Pertikainan dan peperangan yang hari ini mendera Palestina bisa segera diakhiri.

Saya mengucakan terima kasih kepada semua pengunjung blog sederhana ini. Tentu saja blog ini belum bisa memberi kepuasan kepada semua pengunjung, karena memang saya buat dengan segala keterbatasan. Walaupun begitu saya masih akan terus belajar dan berusaha memperbaiki sedikit demi sedikit sesuai kemampuan. Karena itu saran atau kritik akan sangat berharga bagi saya apabila Anda sudi meninggalkannya di buku tamu atau di kotak komentar yang saya sediakan pada setiap posting. Read more...

Senin, 22 Desember 2008

Profil Juara II Lomba Posyandu Gerbangmas Kabupaten Lumajang

Poyandu adalah UKBM (Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat) terpenting dalam penyelenggaraan desa siaga. Lebih-lebih di Kabupaten Lumajang, karena posyandu menjadi basis Gerbangmas (Gerakan Membangun Masyarakat Sehat). Posyandu gerbangmas adalah posyandu plus yang menjadi wahana pemberdayaan masyarakat dengan bidang kegiatan tidak melulu kesehatan tetapi juga KB, kewanitaan, lingkungan hidup, sosial, ekonomi, keagamaan dan lain-lain. Karena itu posyandu tidak hanya menjadi binaan puskesmas, tetapi juga semua sektor terkait di bawah koordinasi camat.



Pada Bulan Desember ini telah diselenggarakan Lomba Posyandu Gerbangmas Tahun 2008 tingkat kabupaten dalam rangka hari jadi Lumajang yang ke-753. Salah satu unggulan Kecamatan Senduro, yaitu Posyandu Harapan Maju Dusun Krajan Desa Kandangan keluar sebagai juara II. Sebagaimana posyandu gerbangmas lainnya, di sini kegiatannya meliputi 21 indikator kegiatan yang sasarannya adalah Manusianya, Usahanya, dan Lingkungannya dan disingkat MUL. Wilayah posyandu yang didukung sembilan kader aktif ini meliputi seluruh Dusun Krajan dengan jumlah keluarga sebanyak 308 KK, 198 pasangan usia subur, 65 balita.

Kegiatan posyandu yang meliputi 5 meja dilaksanakan rutin setiap bulan satu kali. Lima program pokok bidang kesehatan juga dilaksanakan rutin, yaitu: KIA, gizi, imunisasi, KB, dan penanggulangan diare. Penyuluhan perorangan dilaksanakan di meja 4, sedangkan penyuluhan kelompok biasanya diberikan usai penimbangan bersamaan dengan pemberian makanan tambahan bagi balita. Di sini sudah tidak ada lagi persalinan dukun, semua persalinan oleh bidan atau tenaga kesehatan lainnya. Partisipasi masyarakatnya sangat baik. Ini ditunjukkan oleh tingginya tingkat kehadiran balita ke posyandu atau berkisar 90 – 95%.

Pengembangan manusia lainnya adalah kegiatan BKB (Bina Keluarga Balita), BKR (Bina Keluarga Remaja) dan BKL (Bina Keluarga Lansia) di bawah pembinaan PLKB. Juga ada pembinaan kerohanian oleh KUA, Kesra Desa dan tokoh agama setempat. Dalam bidang pendidikan diadakan PAUD untuk anak di bawah 4 tahun dengan tiga hari masuk tiap minggunya. Para kader juga ikut memantau pelaksanaan wajib belajar dan keaksaraan fungsional di wilayah kerjanya.

Dalam bidang pengembangan usaha, posyandu ini menyenggarakan kegiatan simpan pinjam dengan dana awal 3 juta rupiah. Tidak besar memang, tetapi cukup membantu bagi mereka yang butuh dana untuk usaha kecil-kecilan, antara lain: jualan bensin, penjual rujak, penjual bakso dan juga berupa kredit barang.

Bidang lingkungan ditandai dengan kerja bakti tiap hari Jumat. Warga laki-laki kerja bakti di sekitar jalan desa menjaga kebersihan jalan dan selokan serta merawat paraling (pagar ramah linkungan). Warga perempuan kerja bakti untuk PSN (pemberantasan sarang nyamuk) dengan 3 M-Plus di dalam dan luar rumah. Salah satu program unggulannya adalah Pasantik (pasukan anti jentik) dan PSN yang berbasis masyarakat dan bersifa bottom up. Kegiatan ini diawali dengan pemicuan masyarakat oleh kader dan fasilitator dari puskesmas dengan metode ala CLTS. Pasantik bukan kader, melainkan masyarakat biasa yang telah terpicu oleh fasilitator. Ada penandaan rumah, tanda merah diberikan pada rumah yang ada jentiknya. Tanda ini dipasang untuk mempermalukan keluarga yang ada jentiknya sebagai sanksi sosial. Bilal 2 kali merah berturut-turut akan ditegur oleh kepala dusun dan bila setelah itu masih tetap merah akan dijadikan tempat kerja bakti 3M bersama-sama warga sekitarnya. Sanksi tersebut sudah menjadi kesepakatan warga yang diputuskan pada saat pemicuan.

Kepemilikan jamban di wilayah posyandu yang berstrata mandiri ini mencapai 90%. Meski begitu akses penggunaan jambannya mencapai 100%. Itu karena 10%-nya menumpang atau memakai jamban bersama. Kondisi tersebut adalah hasil kegiatan CLTS yang difasilitasi oleh gerbangmas bekerja sama dengan fasilitator CLTS kecamatan dan desa pada Pebruari 2008 lalu. Dan di sinilah pada 8 Juli lalu diadakan deklarasi penggunaan jamban 100% se kecamatan Senduro. Dan Senduro menjadi kecamatan ketiga di Indonesia Kecamatan Lembak Sulawesi Selatan dan Gucialit kabupaten Lumajang Jawa Timur yang berhasil ODF (open defecation free) dengan metode CLTS tanpa subsidi.





Related post: Desa Siaga Gerbangmas Desa Purworejo Terima Tamu Studi Banding ...
Read more...

Minggu, 21 Desember 2008

Kata Bijak yang Tidak Bijaksana 2


Kata Bijak 2: Rokok tidak mengurangi umur karena hanya Allah yang menentukan umur setiap manusia. Ngapain takut merokok?

Kalau kata rokok diganti kata racun maka kalimat di atas menjadi: Racun tidak mengurangi umur karena hanya Allah yang menentukan umur manusia, bukan racun. Ngapain takut racun? Tapi..... coba siapa yang berani minum racun sekarang, kecuali memang mau bunuh diri. Dan dari berbagai studi sudah terbukti betapa banyak kandungan racun dalam rokok, bahkan mencapai ratusan macam.

Setiap orang beriman tentu percaya bahwa umur semua makhluk ditentukan oleh Sang Pencipta, Allah. Tapi kalau kata bijak ini dipakai sebagai dalih cuma untuk menutupi ketidakmampuan berhenti merokok maka pengertiaanya jadi bias. Apalagi kalau yang ngomong seorang yang dikenal sebagai pemuka agama, bisa menjadi pembenar untuk perilaku yang hukumnya makruh itu.






Read more...

Klik di bawah ini untuk melihat daftar semua tulisan saya